Stop Body Shaming, Mari Hargai Perbedaan

Oleh: Siti Fatonah

Pembahasan mengenai perempuan, memang tidak pernah habis. Ada saja, hal-hal unik yang dibicarakan. Nampaknya, ia memang diciptakan untuk menjadi bahan perbincangan. Mulai dari media masa, industri kecantikan, busana bahkan sampai pembahasan mengenai suplemen makanan. Semua menjadikan perempuan sebagai objek perbincangan.

Salah satu yang menjadi objek perbincangan bagi perempun yakni dalam hal penampilan, tidak dapat dipungkiri bahwa penampilan fisik menjadi salah satu penilaian utama bagi setiap individu. Begitupun perempun, sejak era 90-an, perempuan disibukkan dengan berbagai hal yang dianggap merepotkan agar terlihat menarik secara fisik. Mulai dari wacana mengenai cara perawatan wajah dan kulit, menurunkan berat badan sampai standar ideal yang disimpulan begitu saja. Sehingga, mau tidak mau para perempuan harus mengikuti dan menerima standar ideal yang dijadikan standar yang kemudian disebut dengan citra tubuh.

Dalam buku yang berjudul Promotion Healthy Body Image: A Guide For Program Planners yang ditulis oleh Rice menyebutkan bahwa citra tubuh merupakan gambaran mental yang dimiliki seseorang tentang tubuhnya, mulai dari pikiran, perasaan, penilaian, sensasi, kesadaran bahkan perilaku yang terkait dengan tubuhnya. Selain itu, perkembangan melalui interaksi dengan orang lain dan lingkugan sosialnya, maka citra tubuh juga bisa dikatakan sebagai kontruksi sosial yang membuatnya terus dievaluasi dan diawasi terus menerus secara sosial.

Namun, karena adanya konsep citra tubuh khusunya pada perempuan. Menciptakan standar serta penilaian dari masyarakat  mengenai bentuk tubuh yang ideal adalah ketika memiliki badan semangpai dengan kulit putih dan penilaian lain sebaginya yang tidak berdasar. Hingga ruang-ruang media atapun platform media sosial kita ramai dengan promosi produk-produk kecantikan ataupun penurun berat badan dibumbui dengan penampilan perempuan yang dianggap ideal dan memunculkan kesan bahwa perempuan ideal memiliki badan langsing dan memiliki kulit putih, jika ada perempuan yang tidak sesuai dengan stadar tersebut akan dianggap tidak ideal. Bukan hanya itu saja, problem selanjutnya adalah ketika sebagian perempuan membandingkan kecantikan dirinya dan orang lain yang dianggap ideal yang tidak sedikit membuat merasa insecure.

Masalah baru muncul ketika perempuan saling menilai bahkan saling menghakimi. Mulai dari apa yang dikenakan, cara berdandan hingga apa yang sdikonsumsi. Hal inilah yang kemudian disebut sebagai body shaming alias kebiasaan mengomentari tubuh seseorang yang dibumbui dengan candaan, cemoohan atau ejekan. Atau terkadang, kritikan tanpa solusi.

Mengomentari tubuh seseorang –masih dan seringkali– dianggap sebagai hal yang sepele. Entah itu basa-basi, bercanda atau mencairkan suasana, semuanya dianggap sebagai sebuah kewajaran yang tidak perlu dimasukkan ke hati apalagi dipikirkan. Namun faktanya, meskipun tidak ada niatan buruk, tetap saja kebiasaan ini akan menimbulkan rasa sakit hati bahkan rendah diri pada orang yang dikomentari. Oleh karena dapat menyebabkan kekerasan verbal itulah, body shaming dikategorikan sebagai salah satu tindakan bullying.

Bagi saya, semua perempuan bisa menjadi ideal women, apapun bentuk tubuhnya dan bagaimana cara berpakaiannya. Tubuh perempuan memang dan akan selalu menjadi milik publik. Sehingga, tak heran, jika tubuh perempuan menjadi subjek utama yang kerap dikomentari dan dikritik. Namun, terlepas dari itu, apakah bermanfaat –dan penting– jika terus-terusan mengomentari fisik orang lain? Sudahkah berkaca dengan kekurangan diri masing-masing?

Leave a Comment